Mereka Pilih Jadi Barista, Mengapa?

BANDUNG, — Maraknya Kedai Kopi di Kota Bandung, menarik minat banyak orang. Sepuluh di antaranya mengikuti Pelatihan Barista di Rumah Cahaya Bangkit Co-Working Space, Jalan Lio Genteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung.

Pelatihan Barista atau Pembuat Kopi tersebut digagas Pusat Zakat Umat (PZU) dan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN.

Kedua Lembaga tersebut terlibat dalam pembangunan Co-Working Space yang diresmikan 12 November 2020 loleh Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana.

Kegiatan pelatihan digelar 4-7 Januari 2021 dengan pengajar Barista dari Kedai KopiBray.


Amil YBM PLN UID Jabar, Ery Lubis mengatakan, program pelatihan tersebut merupakan kolaborasi PZU dan YBM PLN dalam pemberdayaan masyarakat, terutama di masa pandemi Covid-19.

“Di sini masyarakat bisa tertata lebih baik ke depannya. Para remaja atau pemudanya juga diarahkan dengan baik di Co-Working Space ini,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya memberj pelatihan yang membuat mereka percaya diri. “Salah satunya barista. Saat ini banyak kedai kopi dimana-mana,” katanya.

Menurut Ery, tahun ini akan ada tiga pelatihan. Yakni, barista, pangkas rambut dan kuliner. Pelatihan itu sebagai bekal para peserta untuk berusaha.

“Kita tidak ingin banyak pelatihan atau pesertanya banyak, tapi sesudah pelatihan entah kemana arahnya,” katanya.

Pserta merupakan penerima zakat yang diseleksi PZU. Dikhususkan peserta yang terdampak Covid-19 dan dari keluarga miskin.

Baca:   Pajak 0 Persen Mobil Baru? Sri Mulyani: Relaksasi Ini Bukan Prioritas

Menurutnya, setelah mengikuti pelatihan, para peserta tetap memperoleh pendampingan.

“Kalau mereka sudah punya keahlian, nantinya bisa bekerja di cafe atau meracik sendiri untuk dijual, kita tidak akan lepas tangan,” ujarnya.

Setidaknya, tambah dia, mereka bisa magang dulu di kafe. “Tapi kami arahkan untuk bisa membuat kedai sendiri atau menjual online,” harapnya.

Pengajar barista dari Kedai KopiBray, Amir Yusuf mengatakan dalam pelatihan ini beberapa materi disampaikan. Mulai dari pengetahuan sejarah kopi sampai penyebaran kopi ke berbagai belahan dunia.

Peserta diajari cupping atau uji cita rasa dengan mencoba mencicipi berbagai jenis kopi supaya mereka mengetahui karakteristiknya.

Varian kopi yang dicicipi seperti Arabika, Robusta, dan sejumlah varian lain.

Hari berikutnya, peserta diajari meningkatkan kemampuan, khususunya seperti basic barista, manual brew, dan diperkenalkan dengan berbagai macam mesin pembuat kopi.

“Kami mempersiapkan mereka agar punya skill sebagai barista. Proyeksi ke depannya untuk membuka kedai sendiri,” katanya.

Seorang peserta, MNaufal Ridwan mengaku, ingin menambah skill dan pengetahuannya tentang karakteristik kopi. Karena ia ingin menjadi seorang barista.

Naufal sebelumnya memiliki pekerjaan di bidang travel. Namun karena pandemi Covid-19, pekerjaannya pun terdampak.

“Harapan saya pribadi memang ingin bisa enterpreneur. Kalau ada rezekinya bisa sampai membuka kesempatan kerja,” ucapnya. (angga)