Mendayung Menorobos Amukan Badai Covid-19 #3

Hendra J. Kede

Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat

 


MULAI pada seri ketiga tulisan ini, istri dan kedua anak penulis yang masih berumur 14 tahun dan 8 tahun mulai terlibat secara langsung, baik terlibat pikiran, perasaan, maupun beban phsikologis dalam pergumulan keluarga kami menghadapi realitas bahwa penulis terkonfirmasi positif COVID-19.

Dan selang beberapa minggu kemudian, ketiga orang yang paling penulis sayangi dan cintai tersebut juga terkonfirmasi positif COVID-19 pasca penulis dinyatakan sembuh.

Itulah alasan penulis menambahkan kata ā€œSekeluargaā€ di depan judul di atas mulai seri tulisan ini dan untuk seterusnya.

*

Terhitung November 2017 penulis tinggal di Jakarta. Tepatnya semenjak penulis dilantik sebagai Komisioner Komisi Informasi Pusat periode 2017-2021. Sementara istri dan kedua anak tetap tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah.

Keputusan tentang istri dan anak-anak untuk tidak ikut ke Jakarta diambil setelah kami mempertimbangkan bahwa istri bestatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemkab Wonogiri dan pilihan kami bahwa anak-anak akan dibesarkan dalam salah satu budaya Indonesia, bukan budaya metropolitan.

Dan juga setelah mempertimbangkan optimalisasi waktu kami bersama anak-anak dalam keseharian akan lebih optimal jika istri dan anak-anak tetap di Wonogiri.

Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia tentu saja ikut mempengaruhi pola komunikasi, model kekhawatiran, dan materi perbincangan kami dari waktu ke waktu, termasuk pola rutinitas mudik penulis.

Hampir setiap hari istri mengingatkan penulis untuk secara ketat menjaga protokol kesehatan. Begitu juga sebaliknya, hampir setiap saat penulis memastikan istri dan anak-anak untuk memperbanyak makan-makanan rumah dan meminimalisir jajan di luar.

Pada saat penulis terkonfirmasi positif COVID-19, praktis sudah hampir 3 (tiga) bulan penulis tidak mudik ke Wonogiri. Sehingga dapat dipastikan istri dan kedua anak penulis tidak tertular dari penulis.

*

Pembaca tentu sudah bisa membayangkan beratnya beban pikiran dan beban phisikologis penulis saat hendak memberitahu istri dan kedua anak penulis kalau hasil swab PCR mengkonfirmasi penulis positif COVID-19, padahal baru sehari sebelumnya penulis memberitahu mereka kalau hasil rapid test penulis non-reaktif.

Dan pada waktu bersamaan penulis juga harus memberitahu berita kedua yang tidak kalah beratnya kepada mereka yaitu tentang Mak Adang di Sumbar yang baru saja meninggal dunia di Rumah Sakit setelah dirawat sekian lama karena suatu penyakit sebagai kelanjutan perawatan beliau setelah dinyatakan negatif dari COVID-19.

Teramat sulit bagi penulis untuk meyakinkan diri penulis bahwa kedua berita tersebut tidak akan saling mempengaruhi beban pikiran dan beban psikologis istri dan kedua anak penulis.

Berita kematian anggota keluarga yang awal masuknya ke rumah sakit karena terkonfirmasi positif COVID-19, walaupun wafat saat sudah negatif dan akibat sakit lain, bersamaan dengan berita suami dan ayah mereka akan dirawat di rumah sakit karena baru saja terkonfirmasi positif COVID-19 datang secara bersamaan.

Penulis sendiri secara manusiawi terpengaruh oleh dua berita tersebut. Tidak tahu sebesar apa pengaruhnya pada penulis, namun bayangan akan berakhirnya hidup penulis di dunia ini dalam beberapa hari kedepan karena asbab positif COVID-19 tetap saja ada.

Istri yang aktif dalam Persatuan Ahli Farmasi (PAFI) sebagai Sekretaris Kabupaten Wonogiri tentu lebih paham dari penulis kalau belum ada obat yang efektif dan efisien yang sudah teruji untuk menangani COVID-19. Jangankan obat, vaksin saja belum ada. Di seluruh dunia.

Istri tentu lebih paham lagi bagaimana meningkatnya resiko bagi pasien positif COVID-19 dengan status cormobid seperti penulis.

Apalagi saat penulis dinyatakan positif COVID-19 diawali dengan batuk-batuk dan penurunan selera makan.

Tentu pengetahuan itu, menurut perkiraan penukis, akan berpengaruh dan berdampak pada pemikiran dan phsikologis istri. Hal yang boleh jadi akan membuat pikiran menjadi liar berfikir kemana-mana sampai pada keadaan terjelek: meninggal dunia, harus dimakamkan di Jakarta, dan dimakamkan menggunakan protokol COVID-19.

Segala hal berkecamuk dalam pikiran penulis yang penulis yakini pasti akan menjadi beban pikiran istri juga setelah mengetahui penulis positif COVID-19 nantinya. Dan pada batas tertentu juga akan menjadi beban pemikiran kedua anak penulis.

Bagaimana istri seorang diri akan membesarkan anak-anak. Bagaimana beban batin anak-anak tumbuh sebagai yatim sebagaimana pengalaman empirik penulis sebagai anak yatim. Bagaimana istri akan menanggulangi hutan piutang keluarga kami.

Bahkan sempat sekilas tersirat keinginan untuk tidak memberitahu mereka, nanti diberitahu setelah perawatan saja. Namun muncul lagi pemikiran lain : iya kalau sehat, kalau keluar rumah sakit sudah wafat? Bukankah mendapat informasi seperti itu lebih berbahaya bagi istri dan anak-anak?

*

Penulis menyampaikan kedua berita tersebut melaluiĀ video callĀ kepada istri setelah memastikan anak-anak tidak berada di samping istri. Setelah memastikan ada orang dewasa lain yang dikenal disekitar istri.

Pilihan video call, bukan telpon atau pesan tulis, agak istri melihat secara langsung keadaan penulis. Melihat langsung bahwa penukis secara fisik terlihat baik-baik saja. Sehingga saat penulis menyampaikan berita terkonfirnasi positif COVID-19 kami bisa meyakini kalau penukis masuk level ringan, paling berat level menuju sedang. Sehingga banyak sedikit meminimalisir dampak berita negatif infornasi tersebut kepada istri.

Penulis ingin mendiskusikan dengan istri bagaimana memberitahu anak-anak. Tidak bisa anak-anak diberitahu tanpa melihat dahulu situasi anak-anak. Anak-anak hanya akan diberitahu pada saat mereka kami nilai siap untuk menerima infornasi ini.

Penulis memastikan ada orang desawa disekitar istri saat penulis memberitahu istri untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, seperti istri lemas atau bahkan pingsan.

*

Alhamdulillah, istri penulis begitu kuat dan tegarnya menerima informasi penulis positif COVID-19, tidak sampai terduduk lemes apalagi pingsan. Walaupun terlihat jelas bagaimana perubahan air wajah istri penulis saat penulis selesai memberitahu kalau penulis terkonfirmasi positif COVID-19.

Istri nampak sudah mengantisipasi jika sewaktu-waktu akan menerima informasi seperti ini. Istri sangat nampak berusaha sekuat tenaga untuk tegar dan kuat. Istri mencoba memberi semangat kepada penulis untuk tabah dan semangat untuk sembuh. Dan penulisā€¦.. sekuat tenaga berusaha untuk tidak meneteskan air mataā€¦.

Tidak bisa penulis pungkiri, saat itu terbayang saat-saat penulis bertemu istri sebelum penulis ke Jakarta dan terbayang bisa jadi itulah pertemuan terakhir dengan perempuan yang begitu penulis cintai, perempuan yang sudah penulis kenal semenjak penulis semester 3 (tiga) kuliah dulu, perempuan yang sudah mendampingi penulis sebagai istri selama 15 (lima belas) belas terakhir dalam susah dan senang, perempuan yang telah memberikan dua anak-anak yang begitu menyenangkan hati penulis.

*

Kami memutuskan anak-anak akan diberitahu. Istri secara pelan-pelan akan mencari waktu dan cara yang tepat untuk memberitahu anak-anak.

Menurut kami, sudah saatnya juga anak-anak mulai mendapat pelajaran kehidupan dengan mengetahui infornasi tentang ayah mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Memberitahu informasi ini kami pandang baik bagi mereka dalam belajar memahami realitas kehidupan. Baik bagi proses berlatih perkembangan kejiwaan mereka.

Menyembunyikan informasi ini dan jika terjadi hal yang tidak diinginkan tentang hasil perawatan penulis, kami pandang akan berdampak kurang baik bagi mereka dalam jangka panjang.

Penulis ingat bagaimana saat penulis pergi merantau setaman MAN dulu ke Jogja, ternyata Ayah penulis sebulan kemudian jatuh sakit, sakit panjang sampai akhirnya meninggal 6 (enam) bulan kemudian. Dan penulis tidak pernah diberitahu. Penulis meyakini keputusan ayah dan ibu tidak memberitahu penulis dengan maksud baik dan karena cintanya mereka kepada penulis. Namun sampai saat ini, jika penulis teringat itu, kadang terpikirkan seandainya penulis tahu ayah sakit, mungkin beliau bisa sembuh karena untaian doa penulis untuk kesembuhannya.

*

Akhirnya penulis bisaĀ video callĀ dengan anak-anak setelah diberitahu istri kalau anak-anak sudah mengetahui kondisi penukis.

Anak pertama (14 tahun, perempuan) nampak begitu berusaha untuk tegar. Dan berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya. Kalimat ā€œSemoga cempat sembuh yah..ā€ masih sangat jelas intonasi suaranya terekam dalam pikiran penulis, bahkan sampai saat ini.

Anak kedua (8 tahun, laki-laki) semalamĀ video callĀ berusaha tertawa ceria dan berusaha membuat tingkah lucu. Kepada ibunya dia bercerita kalau dia akan menghibur ayah. Dan begitulah cara dia menghibur ayahnya.

Setelah selesaiĀ video call, tentu saja penulis tidak bisa lagi membendung air mata dan bermunajad pada Allah SWT, Tuhan Yang Maka Pengasih dan Maha Penyayang.

Terima kasih ya Allah telah memberiku istri dan anak-anak seperti mereka.

Istriku, anak perempuanku, dan anak lanangku. Mereka bertigalah yang menjadi tonggak awal penulis untuk menguatkan tekad berusaha untuk sembuh dan memenangkan perang melawan COVID-19 yang telah menyerang tubuh penulis ini.

Bismillahā€¦..

Bersambungā€¦..