PB HMI Berduka, Mantan Ketum Turut Jadi Korban Pesawat Jatuh

JAKARTA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berduka. Salah seorang kadernya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI Mulyadi P. Tamsir, beserta istrinya, Makrufatul Yeti Srianingsih, menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air 182 rute Jakarta–Pontianak kemarin (9/1).

Sekretaris Umum MW KAHMI Kalimantan Barat (Kalbar) Kasiono menyatakan pertama mendapat berita di televisi dan melihat manifes penumpang. Di sana tercantum nama Mulyadi beserta istri.

Kasiono menjelaskan, informasi itu lalu disampaikan di grup WhatsApp Pengurus Majelis Wilayah (MW) dan Majelis Daerah KAHMI Kalbar. Mereka sangat tidak percaya atas kejadian hilang kontaknya pesawat yang ditumpangi Mulyadi dan berita pesawat jatuh di Kepulauan Seribu.


”Di situlah hati saya bergetar terasa sedih karena 20 November 2020 yang lalu saya termasuk yang dipercaya menjadi panitia resepsi pernikahannya,” kata dia kepada Pontianak Pos.

Sebagai anak transmigran yang menjadi ketua umum PB HMI periode 2015–2017, Kasiono termasuk bangga karena ada aktivis HMI dari Kalbar yang bisa memuncaki kepemimpinan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. ”Tentu saya dan keluarga besar HMI kehilangan atas sosok yang santun dan berintegritas itu,” ucapnya.

Kepastian nama Mulyadi beserta istri, ungkap Kasiono, sudah didapat dari berbagai informasi. Salah satunya dari manifes pesawat.

Koordinasi di Soetta



Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)


Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku ikut prihatin atas adanya kecelakaan pesawat Sriwijaya Air. Terkait kondisi cuaca saat pesawat di udara, Budi mengatakan masih melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

”Kami malam ini (tadi malam, Red) berkoordinasi di Soetta (Bandara Soekarno-Hatta). Mohon doa dari seluruh masyarakat agar proses pencarian dan penyelamatan berjalan lancar. Untuk hotline Sriwijaya 021 80637817 dan ada posko di terminal B kedatangan,” tutupnya.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengerahkan tujuh kapal patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) untuk membantu operasi. Lima unit di antaranya merupakan armada Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas I Tanjung Priok.

”Sedangkan dua kapal lainnya dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kepulauan Seribu yang akan berangkat besok pagi (pagi ini, Red),” kata Kabag Organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut Wisnu Wardana.

KN Trisula P-111 sudah berada di wilayah perairan Kepulauan Seribu sejak kemarin sore. Nakhoda kapal Trisula P-111 Eko Surya menuturkan, timnya telah menemukan benda-benda yang diduga milik Sriwijaya Air. (***)