Muladi dan Warisan Tiada Tara


Oleh: Amir Machmud NS

DALAM waktu singkat, pada paruh kedua tahun 2019, saya menimba banyak ilmu dari Prof Muladi.

Bersama tim penulis biografinya, hampir setiap akhir pekan mulai bulan Oktober, kami bercengkerama mewawancarai beliau di ruang kerjanya, di sayap kiri lantai 2 Gedung Rektorat Universitas Semarang, Jalan Sokarno-Hatta.


Saya, Ade Oesman, Solikun, Sofie Dwi Rifayani, Wisnu Ajie, dan Bekti Maharani selalu pulang dengan membawa pengetahuan baru.

Bukan ilmu tentang hukum pidana yang merupakan bidang kegurubesaran Muladi, melainkan pelajaran-pelajaran tidak langsung tentang kehidupan. Mulai dari disiplin, ketekunan, kecermatan, pengetahuan umum, hingga dedikasi dan loyalitas.

Sosok lengkap. Seperti itulah gambaran Muladi, seperti kesimpulan putri pertamanya, Rina Irawati yang menyebut ayahandanya laksana mesin pencari data, google.

Sikap-sikap beliau dalam segi-segi itu sungguh luar biasa. Berbagai catatan yang menjadi testimoni pada kolega dan orang-orang dekatnya menunjukkan, Muladi adalah sosok yang terbiasa berdisiplin ketat, baik dalam manajemen waktu, ritme hidup, jam kerja, maupun komitmen dalam janji-janji pertemuan, serta acara apa pun.

Ketekunan beliau secara utuh tampak dari kisah yang kami tulis dalam biografi “Muladi; Jejak, Pemikiran, dan Kiprah”.

Simaklah, betapa dari seorang remaja yang diakui sendiri sebagai cross boy, dia bergerak dalam trek akademis sebagai seorang intelektual hukum pidana terkemuka.

Dari reputasi keilmuan dan kepemimpinan perguruan tinggi sebagai Rektor Undip, kemudian dipercaya menjadi menteri oleh dua presiden, Soeharto dan BJ Habibie. Lalu pada masa pemerintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dia ditunjuk menjadi Gubernur Lemhannas pertama dari kalangan sipil.

Kecermatan Editing

Saya menemukan sisi lain yang tak terbayangkan, yakni kecermatan beliau dalam berbahasa.

Dalam naskah-naskah biografi dari bab ke bab yang beliau baca ulang, selalu saja ditemukan persoalan editing, dari yang remeh-temeh sampai yang serius.

Sebagai editor buku tersebut terkadang saya menjadi malu sendiri, Pak Muladi sedemikian cermat dan menemukan typo huruf, titik-koma, dan struktur yang mesti dibetulkan.

Beliau memang berdisiplin merawat tradisi menulis. Puluhan buku hukum pidana dan artikel-artikel ilmiah populer telah dihasilkan, dan itu meneguhkan realitas betapa dalam kondisi kesibukan apa pun Prof Muladi tidak meninggalkan habitat utamanya sebagai ilmuwan.

Beliau sangat berdedikasi, loyal kepada ilmu dan pekerjaan. Muladi mengaku, komitmen kesetiaannya diberikan bukan kepada perseorangan tetapi untuk kepentingan bangsa.

Posisi demikian ini membuat beliau sering menyampaikan secara apa adanya namun komprehensif pendapat-pendapat, masukan, dan usulan kepada Presiden tentang kondisi objektif bangsa dan langkah apa yang dibutuhkan.

Kejernihannya sebagai seorang akademisi tidak larut dalam posisi sebagai pejabat pemerintahan.

Hari-hari dalam penyusunan buku biografi beliau menjadi momen indah dalam karier kepenulisan kami. Santai, bernas, dalam suasana gelak tawa. Beliau tak menjaga jarak, sehingga kami bisa menggali jejak kehidupan, pemikiran, dan kiprahnya secara rileks.

Sungguh beruntung, saya dan kawan-kawan tim buku saya mendapat kesempatan menuliskan sejarah dan jejak hidup Prof Muladi yang luar biasa.

Dan, tokoh sekelas itu kini telah pergi…

Selamat jalan, Mas Mbong. Inspirasimu menjadi warisan bagi kami. Bukan hanya untuk para mahasiswamu, tetapi juga bagi bangsa ini yang patut menyerap keteladananmu…