Sulistyo Wahono Mendulang Rupiah dari Pohon Tin

Pohon tin. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Hidup beriringan dengan alam ternyata juga menimbulkan candu. Hal itulah yang dirasakan Sulistyo Wahono. Warga Sukomanunggal tersebut merasa tak bisa jauh dari tanamannya, pohon tin. Lewat vegetasi tanaman bernama latin Ficus carica itu, dia pun mendulang rupiah yang melimpah.

SULISTYO mengenal pohon tin kali pertama pada 2007. Kala itu, dia sedang beribadah haji bersama istri. Hatinya kepincut saat melihat pohon tin. Dia bertanya kepada pemandu grup ibadahnya, apa bisa membawa pulang pohon tin.


Sang pemandu kebingungan. Waktu berlalu. Rangkaian ibadahnya selesai dijalankan. Pria yang akrab disapa Lis itu mendapatkan titik terang untuk pertanyaannya. ’’Saya dapat kenalan orang Jeddah. Kebetulan, anak beliau kuliah di Stiesia. Saya bangun komunikasi intens. Akhirnya saya bisa membawa satu bibit pohon tin,” kenangnya ketika ditemui pada 23 Desember lalu.

Proses pembudidayaan dimulai. Perlahan, dia mulai memahami pola hidup pohon tin. Meski ragu, pria yang berulang tahun setiap 23 Januari tersebut terus belajar, berpraktik, dan melakukan evaluasi. Proses memang tak mengkhianati hasil. Hasilnya bombastis. Dia mampu membudidayakan pohon tin.

Tepat pada 1 Januari 2008, Lis mulai go public. Dia memasarkan pohon tin yang dikembangkannya. Sebelum menaklukkan pasar, dia bersama beberapa rekannya memamerkan pohon tin. Tak tanggung-tanggung, dia merogoh kocek hingga Rp 10 juta. ’’Memamerkan itu kan upaya edukasi juga ke masyarakat. Ternyata, pohon tin bisa dikembangkan di Indonesia, lho,” papar pria kelahiran Ponorogo itu, dilansir JawaPos.com.


Sulistyo Wahono menunjukkan salah satu koleksi pohon tinnya di lantas rumahnya. Lahan untuk bertanam hanya 5×7 meter. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)


Lis berhasil menyedot konsumen pohon yang memiliki sebutan lain buah surga itu. Pangsa pasarnya tak hanya berasal dari domestik. Beberapa pelanggan asal luar negeri juga berduyun-duyun membeli pohon tin miliknya. Antara lain, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Taiwan, Hongkong, hingga Timor Leste.

Harga bibit tanaman yang dipatok tak main-main. Mulai Rp 100 ribu hingga jutaan. Selain menjual dalam bentuk bibit, Lis bersama istri mengembangkan buah tin menjadi produk olahan. Misalnya, teh, manisan buah tin, selai, dan cokelat buah tin.

Saat ditanya, apakah ada rahasia khusus dalam mengembangkan pohon tin? Lis hanya terkekeh-kekeh. ’’Tak ada, beneran. Tetapi, saya sering ngobrol sama mereka (pohon tin, Red). Saya bangun cinta, kasih, dan sayang ke mereka,” bebernya.

Dia mengatakan, sebuah tanaman perlu diajak ngobrol. Tak sekadar menyiram, lalu beres. ’’Jangan rewel, ya. Cepat gede ya,” ucap Lis dengan mempraktikkan perhatiannya ke salah satu pohon tin miliknya.

Ada beberapa jenis pohon tin yang dikembangkan alumnus SMP Negeri 12 Surabaya tersebut. Antara lain, khurtmani, yellow giant kasha, jolly tiger varigata, bardisotte negra rimada, dan ucr. Ada fun fact yang perlu Anda ketahui dari pohon tin, lho.

Saat musim hujan, kata Lis, jika atap area pengembangbiakkan pohon tin tidak tertutup (green house), daunnya berpotensi gugur. Berbeda dengan musim panas.

’’Kalau panas, bagus banget. Daunnya rimbun,” imbuhnya. Dia memperkirakan, pH air hujan membuat daun pohon tin berguguran. Namun, dia mengatakan tak perlu risau. Sebab, daun akan kembali muncul.

Pria yang juga mahir bermain electone itu sebetulnya tak memiliki latar belakang gardening. Ilmu berkebunnya dipelajari secara otodidak. Sebelum full time di kebun mini miliknya, dia merupakan seorang guru.

Guru biologi? Bukan. Lis mengajar mata pelajaran matematika di salah satu sekolah swasta. Bertahun-tahun, dia menghabiskan waktunya menyandang status sebagai pendidik. Pagi hingga sore lebih banyak dihabiskan di sekolah.

Ayah dua anak itu memutuskan untuk angkat kaki dari sekolah dan menjalani hari-harinya di kebun pada 2010. Dia merasa lebih plong. Keluarga menyambut keputusan Lis tersebut dengan antusias. Keluarga tak berkeberatan. Sebab, mereka menilai dengan berkebun, Lis bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga di rumah. ’’Jadi guru saat itu, supersibuk,” ungkapnya. (***)