Korban Gempa Sulbar Berharap Dipulangkan ke Kampung Halaman


MAKASSAR — Pengungsi korban gempa Mamuju dan Majene Sulawesi Barat terus berdatangan ke Makassar. Pemerintah Provinsi Sulsel menyiapkan dua tempat untuk menampung para pengungsi, salah satunya di UPT Inang Matutu, Dinas Sosial Provinsi Sulsel, Kota Makassar.

Di penampungan ini hingga Rabu (20/1/2021) sore terdapat 84 pengungsi Sulbar yang mayoritas berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jumiyem (37) mengaku sudah 2 malam menginap di tempat penampungan tersebut. Ia mengaku mendapat pelayanan baik disitu. Makan tiga kali sehari, disediakan pula kasur, peralatan mandi dan pakaian, seperti yang telah dilansir fajar.co.id, Rabu (20/1/2021).


Sebelum masuk ke penampungan, Jumiyem di tes swab terlebih dahulu. Bagi yang hasilnya negatif diperbolehkan menempati penampungan, sebaliknya jika positif maka akan dirujuk ke hotel tempat isolasi mandiri ataupun rumah sakit bagi yang bergejala. Kesemuanya ditanggung oleh Pemprov Sulsel.

Jumiyem bersama suaminya adalah orang perantauan yang telah menetap di Kota Mamuju, 10 tahun terakhir. Ia berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah.

“Saya pedagang bakso, mie pangsit dan nasi goreng di Mamuju. Sudah 10 tahun tinggal di sana, rumah dan seisinya kami tinggalkan begitu saja,” aku Jumiyem.

Ia mengisahkan, saat terjadi gempa berkekuatan 6,2 magnitudo Jumat 15 Januari dini hari, Jumiyem dan suaminya belum lama terlelap tidur. Ia baru selesai berjualan sekitar pukul 01.00 malam.

Saat bumi bergoyang, seketika Jumiyem loncat dari kasur. Masih dalam kondisi setengah sadar ia berlari tunggang langgang keluar rumah. Hampir saja ia terjatuh karena memang guncangan gempa begitu dahsyat. Ia mendengar suara bangunan roboh maupun suara letusan keras.

“Kami sudah tidur lelap, pas saya lari juga sempat oleng. Saya lihat lantai rumah saya retak lalu terbongkah, lumpur di bawah tanah pun terhambur. Yang saya pikir cuma nyawa, barang-barang berharga sama sekali tidak terpikir,” kisahnya.

Hasilnya, dinding dan lantai rumahnya mengalami keretakan cukup parah. Beruntung, atap rumahnya tidak roboh sehingga ia dan suami berhasil selamat.

“Setelah gempa reda, saya kembali ke rumah ambil semua surat-surat berharga, uang, makanan dan pakaian seadanya. Semua perabotan rumah dan motor saya tinggal di sana. Saya kemudian ikut mengungsi ke Makassar,” ungkapnya.

Jumiyem bersama puluhan pengungsi lainnya berharap ke pemerintah untuk dipulangkan ke kampung halamannya. Memang tempat penampungan dilayani dengan baik. Namun bagi Jumiyem, rumah dan kampung halaman adalah tempat ternyaman dan teraman.

“Kami sangat trauma. Tapi Insya Allah kalau situasi sudah aman, mungkin kami akan kembali ke Sulbar. Di sana sudah seperti kampung kedua kami. Banyak sekali kenangannya,” tutur Jumiyem dengan mata berkaca-kaca.

Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah yang datang mengunjungi korban gempa di penampungan tersebut menjanjikan akan segera memfasilitaso para korban untuk dipulangkan ke kampungnya masing-masing.

“Mungkin besok atau lusa kita siapkan pesawat untuk mereka bisa kembali ke Jatim dan Jateng. Pemprov Sulsel akan menjamin semua biayanya. Kami siapkan pemberangkatan mereka. Karena tidak menutup kemungkinan akan ada lagi pengungsi yang datang. Jadi biar sekaligus,” terang gubernur.

Namun bagi yang hasil swab-nya positif diharuskan melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu di hotel yang telah disiapkan. Tercatat ada 3 orang pengungsi yang terdeteksi positif Covid-19. Kesemuanya orang tanpa gejala. Salah satunya balita berusia 11 bulan.

“Kami siapkan hotel untuk mereka isolasi mandiri. Setelah sembuh kita juga akan fasilitasi mereka pulang ke kampungnya,” pungkasnya.