Produksi Padi di 2022 Alami Kenaikan

Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung pada Oktober–Desember 2022 produksi beras nasional akan mengalami peningkatan produksi.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan penghitungan bahwa tahun ini produksi beras akan mengalami kenaikan. Perhitungan soal luas panen untuk angka sementara itu menggunakan metodologi yang mengintegrasikan dua sistem pengumpulan data, yakni KSA dan ubinan yang berbasis kepada subsegmen KSA, yang dilakukan pada September 2022.

Dari hasil penghitungan BPS itu, produksi beras nasional 2022 diperkirakan mencapai 32,07 juta ton. Jumlah itu naik 0,72 juta ton dari 2021, yang 31,36 juta ton. Selain menghasilkan estimasi luas panen, survei KSA juga memberikan gambaran terkait fase amat padi lainnya, seperti luas fase vegetatif awal, vegetatif akhir, generatif, potensi gagal panen, serta luas sawah dan ladang yang sedang tidak ditanami padi.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, dalam konferensi pers, pada Senin, 17 Oktober 2022, mengatakan bahwa dalam periode Oktober–Desember 2022, produksi beras nasional diperkirakan akan mencapai 5,90 juta ton. Itu berarti ada peningkatan produksi hingga 0,78 juta ton, atau 15,12% dari periode yang sama di 2021, yakni 5,13 juta ton.

BPS juga telah mengeluarkan gabah, beras tercecer, dan beras bukan untuk pangan dalam penghitungan produksi beras tersebut. Dengan kata lain, perkiraan angka produksi tersebut merupakan beras yang merupakan bahan pangan bagi masyarakat.

Setianto mengatakan, penghitungan luas panen dilakukan dengan metode KSA yang menggunakan informasi luas baku sawah (LBS) terverifikasi melalui Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang LBS pada 2019. Dari keputusan itu, LBS pada 2019 secara total ialah 7,46 juta hektare (ha).

Dari LBS tersebut, berdasarkan metode KSA pula, luas panen padi nasional 2022 sementara ini mencapai 10,61 juta ha. Luas tersebut naik 0,19 juta ha atau 1,87% dibandingkan dengan 2021 yang tercatat seluas 10,41 juta ha.

Salah satu faktor pendorong peningkatan luas panen ialah kembali terairinya sejumlah lahan sawah yang sebelumnya tidak terairi karena sumber air, waduk, atau dam rusak karena banjir. Adapun penyumbang utama peningkatan luas panen pada 2022 ini, secara year on year diperkirakan berasal dari Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat.

Dari ketiga provinsi tersebut secara berurutan mengalami peningkatan sebesar 81,19 ribu hektare (5,06 persen), meningkat 56,95 ribu hektare (5,78 persen), dan48,95 ribu hektare (21,93 persen) dari 2021.

“Jadi potensi luas panen padi sepanjang 3 bulan ke depan untuk Oktober sampai Desember 2022 ini diperkirakan mencapai 1,91 juta ha, atau meningkat 0,27 juta ha, atau meningkat 16,54% kalau dibandingkan dengan realisasi luas panen 2021 lalu yang sebesar 1,64 juta ha,” ujar Setianto.

Sejalan dengan peningkatan luas panen padi nasional 2022, maka ada potensi peningkatan produktivitas padi. Produktivitas padi nasional dalam kualitas gabah panen diperkirakan mencapai 62,77 kuintal per ha, naik 0,27 kuintal per ha, atau 0,43% dibanding 2021.

Sementara itu, dalam bentuk kualitas gabah kering giling (GKG), pada 2022, diperkirakan mencapai 52,49 kuintal per ha, meningkat 0,23 kuintal per ha, atau 0,44% dibanding 2021. Dengan peningkatan luas panen dan produktivitas padi itu, maka produksi padi nasional GKG pada 2022 diperkirakan mencapai 55,67 juta ton, meningkat 1,25 juta ton, atau naik 2,31% dibandingkan dengan 2021 yang sebesar 54,42 juta ton.

“Salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan hasil produksi padi, adalah program pendampingan intensif kepada petani terkait penggunaan pupuk yang tepat di musim penghujan,” terang Setianto.

Selain itu salah satu faktor pendorong peningkatan luas panen adalah kembali terairinya sejumlah lahan sawah yang sebelumnya tidak terairi, karena sumber air atau waduk rusak akibat bencana banjir. Setianto memperkirakan, potensi produksi padi GKG sepanjang 3 bulan ini 10,24 juta ton, atau meningkat sebesar 1,34 juta ton, atau naik 15,06% dibandingkan peridoe sama di 2021 yang sebesar 8,90 juta ton.

Laporan BPS menyebutkan, berdasarkan hasil Survei KSA, pada 2021, luas panen padi mencapai sekitar 10,41 juta hektare atau mengalami penurunan sebanyak 245,47 ribu hektare (2,30 persen) dibandingkan pada 2020.

Sementara itu, produksi padi 2021 sebesar 54,42 juta ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi beras pada 2021 mencapai sekitar 31,36 juta ton, atau turun sebesar 140,73 ribu ton (0,45 persen) dibandingkan dengan produksi beras 2020.

Penulis: Eri Sutrisno