Boyang Tomonge Jadi Museum Mandar

Kabid Pengembangan Kebudayaan Disbudpar Majene Muhammad Yassin Djamil, Museolog Edukator Anggi Purnamasari bersama Arkeolog Kurator Museum Makassar Muhammad Ramli menyampaikan materi pada Pengumpulan dan Pengelolaan Koleksi Museum.

MAJENE – Museum di Indonesia yaitu Afdeling Mandar (Belanda Afdeeling Mandar) adalah salah satu wilayah administrasi afdeling dibawah Gubernemen Sulawesi dan Dependensinya, Gubernemen Groote Oost.

Afdeling ini dibentuk pemerintah Belanda berdasarkan Staatblad Nomor 325 Tahun 1916 yang menggabungkan wilayah bekas Kerajaan Pitu Ba’ba Binanga dan Pitu Ulunna Salu menjadi sebuah wilayah administrasi.

Pemerintahan lokal di afdeling ini terdiri dari 14 wilayah kerajaan dan ibu kotanya adalah Majene. Afdeling Mandar dibagi menjadi lima wilayah Onderafdeling yang dikepalai seorang Kontrolir atau pengawas dan dijabat orang Belanda.


Afdeling Mandar terdiri dari Onderafdeling Majene, Onderafdeling Polewali, Onderafdeling Mamasa dan Onderafdeling Mamuju. Pemerintahan dijalankan Belanda, namun kerajaan lokal tetap berjalan sesuai adatnya.

Meskipun tidak memiliki persenjataan perang. Wilayah Provinsi Sulawesi Barat mencakup keseluruhan wilayah bekas Afdeling Mandar.

“Mengapa Majene dipilih sebagai Afdeeling Mandar?” tanya Muhammad Ramli Arkeolog Kurator Museum saat menyampaikan materi pada Pengumpulan dan pengelolaan koleksi museum melalui DAK non fisik BOP-MTBV 2020, di Aula Museum Mandar Majene, pekan kemarin.

Ia menjawab, Museum Mandar berdiri pada 2 Agustus 1984 berdasarkan Keputusan Seminar Kebudayaan MandarI di Majene, dan diajukan permohonan kepada Pemda Tingkat II Kabupaten Majene untuk mendirikan sebuah museum, sehingga diputuskan bangunan bekas rumah kediaman Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Majene yang saat itu di tempati Pembantu Gubernur Wilayah I Mandar dengan sementara.

“Yayasan Museum Mandar dibentuk pada 21 Desember 1984 dengan akte pendirian Nomor 171 dikeluarkan dari Sistske Limowa SH. Pejabat Pembuat akte Tanah Kotamadya Ujung Pandang. Pada 1989 status hukum Museum Mandar Majene dialihkan dari status swasta (yayasan) menjadi status Museum Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Majene, dengan surat tentang pemindahan lokasi museum dari lokasi yang lama keseluruh ruangan bekas rumah sakit umum Majene sampai dengan sekarang,” terangnya.

Ia menjelaskan, rumah sakit yang didirikan Belanda beberapa dekade sebelum kemerdekaan yang kini berlokasi di di jalan Raden Soeradi Kelurahan Pangaliali Kecamatan Banggae.

“Belanda memilih lokasi yang sangat tepat untuk membangun sebuah rumah sakit karena dapat melihat pemandangan indah dari teluk Majene yang disertai hembusan angin, sangat cocok bagi pasien dan keluarganya yang membutuhkan kedamaian,” urainya.

Diungkapkan, Majene adalah salah satu kota tua peninggalan Belanda di Indonesia. Di masa kolonial, Belanda mendirikan enam pusat pemerintahan di Pulau Sulawesi, salah satunya adalah di Majene sebagai pusat pemerintahan di Sulawesi Barat.

“Pada tahun 1908 Belanda kemudian membangun sebuah rumah sakit di Majene, yang saat ini menjadi Museum Mandar, yang kini terletak di kawasan perbukitan,” katanya.

Ia menjelaskan, pada 1905 tempat ini dijadikan penampungan tentara belanda. Dan pada 1908 dibangun rumah sakit khusus orang Asing yang bermukim di Mandar, dengan nama “Boyang Tomonge (Rumah Sakit).

“Pada 1910 dioperasikan dan tahun 1917, berubah menjadi rumah sakit umum pada 1925 sebagai rumah sakit rujukan kolonial Belanda,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada tahun 1940 terdaftar sebagai BMD kode Barang/Reg: 01.01.13.05/0001 luas 2,197 Ha.

“Museum Mandar Majene sudah meduduki klsasifikasi museum tipe C. Sedangkan bangunannya termasuk bangunan cagar yang dilindungi Undang-Undang No.11/2010 Tentang Cagar Budaya, memiliki koleksi dari masa prasejarah hingga kini, yang diklasifikasi Geologika, Biologika, Arkeologika, Historika, Numismatika, Heraldika, Filologi, Seni rupa serta Teknologika,” paparnya.

(Abd. Hafid / SBChannel)¢