Selasa, 07 Desember 2021

Geliat Ekonomi Daerah
“Baba Nanga” Menyulap Tempat Kotor Jadi Destinasi Wiasata yang Cantik

TALIWANG – Menggeliatkan ekonomi ditengah pandemi, bukan hal mudah. Ini tantangan besar bagi banyak pemerintah daerah. Tantangannya semakin berat saja.

Peredaran uang minim dan daya beli menurun. Jangankan untuk berwisata, untuk memenuhi kebutuhan primer saja sulit. Semua serba susah.

Tapi, bagi Muhammad Saleh SE keruwetan ekonomi di tengah pandemi bukan jadi masalah. Kuncinya ide dan kemauan.

Selalu ada cahaya di ujung terowongan, mengutip bahasa kias yang kerap disampaikan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah.

Saleh sapaan akrab pengusaha lokal yang juga anggota DPRD fraksi PDI P tersebut, tak mau berpangku tangan.

Ia gelisah melihat ekonomi daerah yang kurang bertumbuh. Peluang kerja seakan tinggal harapan. Muncul ide membuat dan merancang destinasi baru wisata.

Ia menyebutnya Baba Nanga. Ia terinspirasi oleh anak muda Sumbawa Barat yang mau menginvestasikan ide dan waktu memoles tempat wisata Poto Batu meski dengan modal seadanya.

Saleh punya ide merancang wisata muara yang dulu dinggap tempat buang sampah atau tempat kotor.

“Memadukan budidaya bandeng dan udang dengan resto atau villa mini. Dengan penataan lingkungan yang bagus, view pun didesain menarik pula,” kata, M Saleh, mengungkap ide mengungkap gelisahannya, Rabu (1/9/2021).

Saleh sendiri tercatat sebagai pengusaha lokal di Sumbawa Barat. Ia bergerak di bidang kepelabuhanan kelautan dan transportasi.

Kuncinya, menurut Saleh, destinasi yang baru memenuhi aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek lingkungan.

Aspek sosial, mampu memberdayakan pemuda dan peluang kerja baru. Dari sisi ekonomi, mampu membuka pasar kuliner dan wisata baru.

Pada aspek lingkungan, mampu menciptakan penataan lingkungan yang asri, bersih dan bernilai estetika tinggi.

Saepul Magrabi, warga Taliwang, mengatakan, kemampuan pengusaha lokal seharusnya bisa menjadi kekuatan baru bagi pemerintah daerah untuk bertahan dan membangun geliat ekonomi di tengah pandemi.

Menurutnya, jika ada ide dan kemauan semuanya bisa terwujud.

Intinya, kata dia, kepekaan dulu. Harus ada kegelisahan melihat sesuatu yang mati bisa dihidupkan kembali.

“Nah, ide pak Saleh ini menjadi harapan baru bagi pengusaha lokal dan dinamika usaha di Sumbawa Barat,” katanya.

Menurut Saepul, destinasi baru artinya mengandung ketertarikan baru. Ini pintu masuk agar banyak orang datang.

“Ini harus diciptakan di banyak tempat bukan hanya pengusaha tapi juga pemerintah,” ujarnya, salut.

Baba Nanga berarti Mulut Muara. Mulut muara konotasi tempat yang kotor dan sumber terminal sampah disungai. Tapi di tangan orang yang benar, persepsi itu bisa dirubah.

Selain destinasi kuliner, Baba Nanga juga mamadukan wisata terintegrasi. Wisata outbond, olah raga sungai seperti kano dan jetsky dan resto berkonsep resot pantai. (S1)